Memakai Senapan Angin Sharp Tiger

Usaha pompa senapan ini cukup enteng. Ya, kesempatan ini saya mulai memperbandingkan. Dibanding dengan senapan Bramasta saya, usaha pompa yang dibutuhkan relatif tanpa ada permasalahan. Hal semacam ini bisa saja lantaran design katup penutup tabung angin yang memakai bola/bearing hingga hawa yang ditekan serta masuk kedalam tabung angin lebih kecil tertahan oleh permukaan bola dibanding permukaan karet senapan angin Bramasta yang berupa silinder. Ciri khas beban pompa, yang makin bertambah setiap saat usaha pompa bertambah, masihlah dirasa pada senapan angin ini. Pada pompa ke-3 dan sebagainya kita bakal rasakan keuntungan dari otot dada yang terlatih. Memasukkan mimis kedalam kamarnya cukup merepotkan. Pada kondisi senapan angin tak terpasang riflescope.

Lubang mimis saya rasakan sangat terlalu sempit hingga saya tak dapat leluasa mengatur posisi kepala mimis pada rok. Rupanya lubang mimis ini didesain supaya mimis dijatuhkan pada posisi ujung laras lebih rendah dari pada popor. Tetapi tehnik ini tak menanggung kesuksesan mimis masuk dengan posisi kepala di depan hingga cukup merepotkan juga bila mesti keluarkan mimis yang salah posisi. Permasalahan ini bakal jadi tambah berat bila kita menempatkan riflescope lantaran scope mounting bakal berikan ruangan gerak lebih sempit lagi untuk jari bermanuver memasukkan mimis. Membidik dengan memakai visier begitu mengasyikkan. Kontras senapan angin cerah pada visier belakang, visier depan serta tujuan berikan kelebihan waktu menembak tanpa ada riflescope (open sight). Posisi pipi bertumpu nyaman pada popor senapan angin cukup tidak tipis dibagian pipi.

senapan angin
Penyusunan visier cukup dikerjakan dengan tangan kosong pada visier belakang tanpa ada alat penambahan seperti obeng. Tombol putar dengan angka pemberi tanda menolong untuk mengingat posisi ketinggian (elevation) serta posisi horisontal (windage) visier. Ke-2 tombol putar memakai system bertingkat (step). Seperti pada riflescope, tiap-tiap memutar satu taraf bakal merasa satu click. Kerugiannya yaitu jarak pergeseran tak dapat ditata semau kita seperti pada system stepless. Pergeseran visier terbatas pada jarak senapan angin didapatkan tiap-tiap click itu.

Tetapi hal semacam ini tak jadi permasalahan lantaran jarak antar visier belakang yang cukup lebar akan tidak berikan faedah pada penyusunan tombol yang sangat cermat. Sisi pacu yaitu hal yang menurut saya paling mengganggu pada senapan angin ini. Setiap saat massa serta desakan hawa dalam tabung angin bertambah, jadi usaha menarik pacu bakal makin berat juga. Mengakibatkan ketika memakai riflescope, menarik pacu bakal bikin titik bidik berubah cukup jauh dari posisi awal. Apabila dibanding dengan senapan angin Sharp Ace punya saya yang mengambil system pacu yang sama.

Dapat disebutkan pacu Sharp Tiger yaitu siksaan untuk penembak tujuan kertas (bench shooter). Kekurangan system pacu yang berpedoman system dumping memanglah demikian ada. Tetapi tak ada usaha produsen melakukan perbaikan hal semacam ini, sedang pada product senapan angin ditirunya mempunyai tingkat toleransi yang tambah baik, bikin kami jengkel. Nada yang dibuat tiap-tiap menembak sungguh keras. Nada keras ini cukup mengganggu apabila bakal dipakai dalam berburu maupun menembak pada malam hari. Produsen telah mengerti hal semacam ini serta sediakan drat untuk menempatkan peredam di bagian ujung laras.