Mendapatkan Teman Baru di Rumah Nenek

Musim libur telah tiba. Pada musim libur ini saya dan istri telah menjadwalkan untuk pulang ke rumah orang tua yang berada di desa. Memang telah lebih dari 2 tahun kami tidak pulang bukan karena tidak ada waktu namun karena kondisi keuangan yang pada saat itu masih morat-marit. Dengan kesungguhan kerja dan juga doa, alhamdulillah kondisi keuangan keluarga berangsur-angsur mulai membaik.

Meskipun kondisinya belumlah seperti masa jaya kami dahulu, namun setidaknya saat ini ada dana untuk pulang ke rumah orang tua. Apalagi rumah orang tua saya dan istri tidak terlalu jauh hanya berbeda desa.

Kami berangkat bersama dengan 2 orang anak dengan menumpang kereta api kelas ekonomi. Lumayanlah, karena pada saat ini kereta api kelas ekonomi telah difasilitasi dengan AC sehingga setiap penumpang yang berada di dalam kereta dapat lebih nyaman.

Perjalanan panjang selama 10 jam telah kami lalui. Dari stasiun kereta menuju ke rumah orang tua saya dilanjutkan dengan memakai angkutan minibus. Perjalanannya cukup jauh yaitu sekitar 32 km dan memakan waktu sekitar 1 jam. Sesampainya di sana kami langsung disambut oleh orang tua yang memang sejak pagi hari menunggu kedatangan kami.

Aneka jajanan khas desa telah tersedia di meja dan itu adalah favorit saya dan istri. Namun, untuk anak saya yang saat ini berusia 5 tahun, jajanan itu terlihat aneh. Maklum saja karena selama di kota dia lebih terbiasa makan roti dan juga pizza. Untungnya anak saya masih mau untuk memakan jajanan tersebut meskipun tidak selahap jika dia mengkonsumsi burger.

Keesokan harinya anak saya bertemu dengan saudara sepupunya yang berusia satu tahun di atasnya. Mereka segera bermain bersama walaupun permainan yang dimainkan membuat satu sama lain merasa aneh. Anak saya dengan antusiasnya menunjukkan beberapa game di ipad-nya. Sedangkan sepupunya merasa heran dan menganggap itu adalah barang yang mewah.

Setelah puas bermain ipad, keponakan saya mulai menunjukkan permainan yang dimainkannya selama ini. Kalau menurut saya itu bukanlah hal aneh karena sejak kecil saya sering membuatnya. Namun karena saya sangat sedikit waktu untuk bermain dengan anak maka saya tidak pernah memperkenalkan mainan tersebut kepadanya. Permainan tersebut adalah membuat origami katak bangkong.

Begitulah saya menyebutnya pada saat kecil. Hal ini dikarenakan origami tersebut mirip dengan katak bangkong dimana badannya lebar dan ukurannya besar. Anak saya terkejut dengan permainan ini dan dengan seksama memperhatikan apa yang dilakukan oleh saudara sepupunya. Dia kemudian tanpa rasa canggung mulai bertanya bagaimana membuatnya dan minta untuk dibimbing. Saudara sepupunya tersebut tanpa basa basi segera memberikan pengarahan sampai dengan anak saya mampu untuk membuat origami tersebut. Wah ini adalah sebuah momen transfer wawasan dimana kedua belah pihak akhirnya bahagia.